http://www.andiekasakya.blogspot.com/

http://www.andiekasakya.blogspot.com/

http://www.andiekasakya.blogspot.com/

http://www.andiekasakya.blogspot.com/

http://www.andiekasakya.blogspot.com/

Monday, March 14, 2016

Tersanjungnya Kepala BMKG Saat Diminta Tanda Tangan oleh Wapres JK Pasca Gerhana



Palu - Kepala BMKG Andi Eka Sakya tak dapat menyembunyikan rasa senangnya setelah prosesi gerhana matahati total (GMT) berakhir. Acara pengamatan GMT di Palu berjalan lancar, bahkan ia diapresiasi oleh Wapres Jusuf Kalla.

Dalam wawancara dengan wartawan, JK sempat melontarkan pujian untuk BMKG dan Pemda Sigi serta Provinsi Sulawesi Tengah. Andi bahkan mengaku diminta tanda tangan oleh JK.

"Baru kali ini selama puluhan tahun saya jadi PNS, diminta tanda tangan oleh Pak JK," kata Andi di Stasiun Geofisika Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (9/3/2016).

Andi menyampaikan hal itu di depan puluhan anak buahnya saat menggelar rapat evaluasi di Stasiun Geofisika BMKG Kelas I Palu. Andi mengaku kikuk saat diminta tanda tangan oleh orang nomor 2 di RI itu.

"Saya sungkan awalnya, tapi Pak JK bilang, 'tanda tangan kamu ini akan laku Rp 350 tahun lagi' (saat gerhana matahari total-red)," ujarnya.

Secara umum, proses pengamatan gerhana matahari total di Palu cukup lancar. Cuaca di kota ini juga bersahabat sehingga fenomena super langka itu dapat dinikmati dengan sempurna selama 2 menit 23,5 detik. Durasi ini cukup lama dibanding kota-kota lain di Indonesia, meskipun bukan yang paling lama.

Palu merupakan salah satu tujuan pengamatan GMT utama baik oleh wisatawan maupun peneliti. Tak hanya dari dalam negeri, wisatawan dan peneliti asing juga berbondong-bondong mengunjungi Palu untuk mengamati gerhana. Bahkan seoang astronot asal Belanda yang pernah ke bulan, Andre Kuiper juga memilih Palu sebagai lokasi pengamatan gerhana.

(khf/dra)


Sunday, March 13, 2016

Gerhana Matahari Total 2016 : Religi, Sains, dan Seni Bertemu



JAKARTA, KOMPAS — Berbagai festival di sejumlah daerah di Indonesia merayakan gerhana matahari total, Rabu (9/3), mempertemukan aktivitas religi, sains, dan seni. Pemerintah daerah dan masyarakat berhasil memainkan peran masing-masing.
Di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu dini hari, puluhan ribu warga memadati Pantai Losari dan melaksanakan shalat Kusuf (gerhana), dilanjutkan zikir. Aspek religi dilanjutkan pengamatan bersama gerhana matahari sebagian. Layar lebar dipasang di anjungan Pantai Losari menayangkan citra teleskop Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mengamati proses gerhana dari Gedung Balai Kota Makassar.
Makassar dilintasi gerhana matahari sebagian. Pada pukul 07.27 waktu Indonesia bagian tengah (Wita), piringan bulan mulai menutupi matahari. Pukul 08.35 menjadi momentum puncak gerhana sebagian hingga 88 persen.
Di Bundaran Besar, Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pertemuan aspek religi, sains, dan seni masyarakat Dayak juga berlangsung. Tengah malam sebelum gerhana matahari total (GMT), digelar ritual adat Balian masyarakat tradisional Dayak. Warga khusyuk mengikuti alunan doa dalam nyanyian ritual dengan bahasa Sangiang atau bahasa para dewa orang Dayak oleh para basir atau pemuka adat Kaharingan.
Pertunjukan tari kolosal Nantilang Dahiang Jangkaran Matanandau sehari menjelang GMT juga digelar di Palangkaraya, persisnya di Stadion Sanaman Mantikei.
Rangkaian peristiwa serupa yang mempertemukan religi, sains, dan seni juga berlangsung di daerah lain, baik di wilayah yang dilintasi GMT maupun gerhana matahari sebagian (GMS).
Di Bandung, Jawa Barat, setelah GMS, sejumlah seniman menggelar ruwatan Samagaha (ruwatan Batara Kala) di tengah pameran lukisan gerhana. ”Seni rupa digabung ruwatan dan musik tarawangsa ini untuk berbagi kebahagiaan merayakan gerhana matahari yang jarang,” kata perupa Tisna Sanjaya, dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung.
Warga Kepulauan Pagai, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, jelang GMT, juga menggelar shalat gerhana. Sebagian warga lain melanjutkan senam dan pengamatan proses GMT. Pagai daratan pertama yang mengalami GMT.
Di Yogyakarta, ribuan warga sejak dini hari berkumpul di Tugu Yogyakarta. Warga, Nanang Kristanto (28), memanfaatkan peristiwa langka itu untuk menyerahkan cincin pertunangan dan melamar Dian Paramita (24) menjadi pasangannya.
Di Solo, Jawa Tengah, di depan Pasar Gede, Komunitas Republik Aeng-Aeng memprakarsai pentas seni gejok lesung. ”Pentas seni gejok lesung ini wujud mensyukuri sinar matahari sekaligus menghormati Tuhan yang menciptakan matahari. Sinar matahari harus selalu disyukuri karena berperan penting dalam kehidupan masyarakat agraris,” kata Hari Genduk, pembina Komunitas Seni Gejok Lesung Sri Sadono.
Puncak GMT
Di Sigi, Sulawesi Tengah, Wakil Presiden Jusuf Kalla turut mengikuti shalat gerhana sebelum memantau peristiwa GMT di lapangan Kota Pulu, Kabupaten Sigi. Di tempat itu juga hadir ratusan peneliti dari mancanegara dan domestik. Astronot Andre Kuipers dari Badan Antariksa Eropa (ESA) yang pernah berada di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) ditemui Kalla, yang hadir bersama Nyonya Mufidah Jusuf Kalla dan para menteri. Saat GMT, tepuk tangan dan doa syukur kembali membahana.

Setelah menyaksikan proses GMT, Kalla menyampaikan, ”Oh indah sekali. Bagaimana kekuatan alam, bagaimana (kita) mengetahuinya, matahari yang (berjarak) 150 juta kilometerdan bagaimana bulan yang jaraknya lebih kurang 40 juta kilometer dapat diketahui posisi pas, betul-betul pas. Itu, kan, kebesaran Allah. Karena pengetahuan manusia, presisi, menitnya sudah diketahui, tahun dan di menit sekian terjadi di sini, dan itu benar. (ENG/IDO/DKA/CHE/SON/PRA/HRS/ZAK/RWN/NIN)
Sumber : Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 Maret 2016, di halaman 15 dengan judul "Religi, Sains, dan Seni Bertemu"

Tuesday, January 12, 2016

BMKG-Kominfo Luncurkan Program SMS Peringatan Bencana



JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meluncurkan program pesan singkat (sms) peringatan bencana.

Peluncuran program tersebut dilakukan di Jakarta, yang dihadiri oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dan Kepala BMKG Andi Eka Sakya.

Program sms peringatan bencana tersebut bekerja sama dengan empat operator yaitu Telkomsel, XL Axiata, Indosat Ooredo dan Hutchison 3 Indonesia (Tri).

Menteri Rudiantara dalam kesempatan tersebut mengatakan pelaksanaan program sms kebencanaan tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman yang telah ditandatangani antara pihaknya dan BMKG beberapa bulan sebelumnya.

Kesepakatan kerja sama tersebut tertuang dalam surat bernomor 826/Kominfo/DJPPI/HK.03.02/05/2015 dan KS.301/011/SU/V/2015 tentang Pemanfaatan Sistem Telekomunikasi Khusus dalam Rangka Penyebaran Informasi Peringatan Dini Cuaca Ekstrem, Tsunami dan Informasi Gempa Bumi.

Kepala BMKG Andi Sakya mengharapkan pelaksanaan program tersebut dapat mengurangi korban jiwa maupun kerugian materiil akibat bencana alam. Hal ini mengingat, Indonesia berada di "cincin api" dan berpotensi bencana yang tinggi. "Sekitar 57 persen daerah di Indonesia berada di daerah rawan bencana," katanya, Senin (21/12/2015).

Sementara itu, dalam program tersebut, BMKG nantinya akan menjadi sumber informasi tentang kebencanaan, seperti peringatan dini bencana baik gempa bumi maupun tsunami dan cuaca ekstrem.

Informasi BMKG tersebut nantinya akan disalurkan ke Kementerian Kominfo, untuk kemudian dilanjutkan kepada para operator. Para operator akan mengirimkan informasi tersebut dalam bentuk pesan singkat (SMS) kepada para pelanggannya di daerah (kabupaten dan kota) terdampak bencana.

Misal bencana tejadi di Kabupaten Garut maka warga Kabupaten Garut akan mendapatkan SMS informasi tersebut. Hal ini guna mengurangi kepanikan masyarakat di luar daerah terdampak akibat informasi bencana itu.

Andi menambahkan, jarak waktu antara informasi yang diberikan BMKG ke Kominfo hingga SMS yang tersebar ke masyarakat tidak lebih dari limat menit.

"Waktu penyampaian ini semakin cepat semakin baik. Kita ingin seperti Jepang yang tidak lebih dari dua menit, sehingga ada 'golden time' (waktu emas) bagi masyarakat untuk bersiap menghadapi bencana," katanya.

Sementara itu, dalam uji coba yang dilaksanakan pada kesempatan tersebut, tercatat waktu tak lebih dari dua menit info bencana dapat tersampaikan visa SMS.

"Namun kita perlu ingat ini hanya uji coba, bukan dalam kondisi bencana sesungguhnya. dan kita perlu terus-menerus untuk menguji coba sistem ini," kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.

Wakil Direktur Utama Hutchison 3 Indonesia Muhammad Buldansyah mengatakan program ini sebagai wujud peranan sosial operator untuk masyarakat."Sms ini gratis," katanya. (ant)

(amr)


Wednesday, December 23, 2015

Kuliah Umum Dr. Andi Eka Sakya, M.Eng "Perubahan Iklim: Kendala atau Tantangan bagi Indonesia 2025"


Dalam rangka memperingati hari bumi yang jatuh pada tanggal 22 April 2015, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian bekerjasama dengan beberapa instansi selalu mengadakan berbagai kegiatan tiap tahunnya. Untuk tahun 2015 kegiatan terdiri dari seminar, seremonial peringatan hari bumi, kuliah umum, olimpiade geografi dan geosains dan olahraga sepeda. 


Pada puncak peringatan tanggal 22 April 2015, dalam sambutannya Ketua Panitia Hari Bumi 2015 Dr. Syamsul Bahri, M.Eng menyampaikan bahwa serangkaian kegiatan selalu diadakan oleh FITB tiap tahunnya dalam rangka memperingati hari bumi dengan tujuan untuk mengajak masyarakat berkontribusi menjaga bumi dari ancaman kerusakan yang semakin serius. Sambutan kemudian disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Alumni dan Komunikasi Dr.Miming Miharja, ST,M.Sc.Eng mewakili Rektor yang tidak bisa hadir. Beliau menyampaikan bahwa ITB memberi perhatian penting dalam menjaga kelestarian bumi.


Acara kemudian dilanjutkan dengan Kuliah Umum yang menghadirkan Kepala BIG (Badan Informasi Geospasial) Dr. Priyadi Kardono, M.Sc dengan judul "Peranan Informasi Geospasial Mendukung Pengelolaan Sumberdaya Alam" Mulai Pukul 09.30 s.d 11.30 WIB. Kemudian pada Pukul 13.00 s.d 15.00 WIB dilanjutkan Kuliah Umum kerjasama Program Studi Sains Kebumian FITB ITB dengan BMKG menghadirkan Kepala BMKG Dr. Andi Eka Sakya, M.Eng dengan judul "Perubahan Iklim: Kendala atau Tantangan bagi Indonesia 2025".


Pada tanggal 24-25 April 2015 diselenggarakan Olimpiade Geografi dan Geosains ITB 2015 tingkat nasional yang diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Kemudian kegiatan lainnya adalah Gowes Bareng Hari Bumi pada tanggal 02 Mei 2015 dengan menempuh rute G.Kasur, Bandung Barat sampai ke Maribaya, Kab Bandung.






Tuesday, December 22, 2015

PESAN LAYANAN MASYARAKAT BMKG


Pesan Layanan Masyarakat BMKG :


Indonesia terletak dikawasan tropis;
Tanah subur kaya akan Sumber Daya Alam;
Namun, memiliki potensi bencana alam yang tidak bisa kita hindari;
Mari kenali Cuaca, Iklim dan Gempa Bumi;.

Kami BMKG siap sedia memberikan layanan informasi Cuaca, Iklim dan Gempa Bumi;
Dari unit kerja BMKG di Pusat maupun di Daerah;
Seluruh wilayah Indonesia secara Cepat, Tepat, Akurat, Luas dan Mudah di pahami.


Twitter : @infoBMKG
www.bmkg.go.id

Monday, December 21, 2015

REFLEKSI 2015


Andi Eka Sakya,

Kawan-kawan,
Catatan ini saya tulis pagi ini dalam perjalanan;
di tengah gerimis dan kemacetan;
dari Serpong ke Kemayoran.

Hari ini tradisi baru kita lakukan;
refleksi akhir tahun dalam wujud renungan;
kita bersama duduk di dalam ruangan; 
untuk secara jujur melihat tapak2 perjalanan.

Saya keliru jika dalam 5 tahun ini tidak mengalami kemajuan;
dari kenaikan belanja anggaran hingga fasilitas pendukung pekerjaan;
dari bangunan hingga perbaikan penghasilan;
dari pelaporan aset, kinerja dan hasil pemeriksaan keuangan;.

Apakah integritas dan etika, moralitas dan mentalita, serta budaya kerja tidak terungkit oleh kemajuan?;
atau justru terkikis oleh waktu yang berkejaran?;
kapankah terjawab kemajuan dan kelimpahan mengetuk hati yang dipenuhi rasa syukur dan keikhlasan?;.

Hari ini tradisi baru kita ciptakan;
yang lalu kita renungkan;
yang lewat kita jadikan pelajaran;
memperbaiki proyeksi dan capaian;
mewujudkan cita dalam sebuah perjalanan panjang;
agar melangkah secara lebih berkeyakinan dan berketetapan;
bahwa kita akan mampu menjalankan amanah yang diemban;
memajukan teknologi bangsa ditengah tantangan, godaan, keberingasan dan keserakahan, serta minimnya perhatian.

(AES, 21 Des 2015)




Monday, December 14, 2015

Spesifikasi Alat Harus Sesuai Alam Indonesia



JAKARTA (SK) – Fasilitas deteksi bencana milik Indonesia yang dioperasikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) harus memiliki kekhasan, dengan memperhatikan alam Indonesia.

Hal itu dikemukakan peneliti asal Korea Selatan, Hak Soo Kim, usai kunjungan kerja bersama peneliti lain dari 16 negara ke kantor BMKG, Jakarta, Rabu (9/12).

Dengan demikian, lanjut Hak Soo Kim, kecanggihan alat tersebut tidak bisa dibandingkan dengan milik Korea. Bahkan dengan negara mana pun di dunia.

“Korsel pernah memakai teknologi deteksi bencana, cuaca, dan iklim buatan Jepang. Namun, alat tersebut tidak dapat digunakan secara optimal di Korsel. Teknologi impor itu akhirnya harus dimodifikasi ulang, sesuai dengan karakteristik alam Korea,” ujar Kim yang juga co-Chair of International Organizing Committee/Fellow of Korean Academy of Science and Technology.

Ditambahkan, Indonesia merupakan negara yang sangat luas, tetapi memiliki fasilitas deteksi cuaca, iklim, dan bencana yang memuaskan.

Hal itu perlu dipertahankan guna kemaslahatan masyarakat, terutama informasi tentang kebencanaan.

Sementara itu, Manoj Kumar Patairiya, additional Director General of Broadcasting Corporation in India, mengutarakan, peralatan yang dimiliki BMKG sudah sangat canggih.

“Baru saja ada gempa besar di India. Saya mendapat informasi pertama soal gempa itu dari BMKG. Ini menandakan BMKG punya peralatan canggih,” kata Manoj.

Hak Soo Kim dan Manoj Kumar adalah peserta workshop SHER (Science, Health, Environtment and Risk) yang diselenggarakan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti.

Kepala BMKG, Andi Eka Sakya mengatakan, tingkat akurasi prakiraan cuaca dan iklim oleh lembaganya berada di level 75-80 persen. Data tersebut dinilainya sudah relatif cukup bagus.

“Akurasi prakiraan sebesar 75-80 persen ini sesuai dengan standar World Meteorological Organisation (WMO). Untuk meningkatkan akurasi hingga menjadi 90 persen masih terbilang sulit.

“Kami memiliki 35 radar di seluruh Indonesia. Kami juga dibantu satelit dari Jepang, NASA, Tiongkok, dan Korea. Dengan begitu, ada 179 stasiun dan ribuan pengukur hujan. Semakin rapat ketelitiannya, semakin bagus,” ucapnya.

Indonesia, lanjut Andi sakya, memiliki karakter iklim dan cuaca yang cenderung berbeda dengan negara-negara lain, termasuk negara-negara maju.

“Interaksi lautan di atmosfer kita lebih kompleks dibanding negara daratan, termasuk Kanada, Amerika Serikat, atau Finlandia, yang cenderung dekat dengan utara atau jauh dari khatulistiwa,” katanya. (dwi)