http://www.andiekasakya.blogspot.com/

http://www.andiekasakya.blogspot.com/

http://www.andiekasakya.blogspot.com/

http://www.andiekasakya.blogspot.com/

http://www.andiekasakya.blogspot.com/

Sunday, November 29, 2015

Musim Hujan Datang, Banjirkah Jakarta?


MUSIM hujan datang, El Nino dan potensi kebakaran lahan dan hutan menghilang. Banjir menghadang. Banjirkah Jakarta memasuki musim hujan 2015/2016 ini. Banjir di Jakarta sering diasosiasikan dengan kejadian 5 tahun sekali. Pada kenyataannya dalam 10 tahun terakhir, banjir bisa terjadi kapan saja. Tidak berpola : 2002,2007,2013 dan 2014. Tetapi semuanya pada awal tahun.

Tulisan ini tidak membahas tentang dampak banjir di Ibukota, tetapi memberikan gambaran kecenderungan kejadian hujan beberapa tahun terakhir di Ibukota, dilihat dari sisi klimatologis ( sifat rerata cuaca jangka panjang ). Di dalam KBBI, jabaran banjir hanya disebut sebagai : “berair banyak dan deras, kadang meluap” Penjelasan yang “agak” lebih luas diperoleh dari wikipedia : “Peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan”. Paling tidak untuk Jakarta, kita mengenal banjir kiriman, yang airnya mengalir dari daerah pegunungan di sekitarnya disebabkan oleh hujan yang terjadi di wilayah tersebut.
Di Jakarta bisa juga terjadi banjir yang disebabkan terlampauinya “daya-tampung” permukaan Jakarta disebabkan oleh hujan berlebihan. Hujan merata yang terjadi dalam intensitas tinggi dan dalam waktu yang lama, sedangkan “daya –serap” permukaan tanah di Jakarta tidak mampu untuk “menelannya”.

Genangan yang terjadi di berbagai lokasi “menambah” pasokan air sungai-sungai di sekitar Jakarta dan meluap. Banjir jenis ini sering dikategorikan flash flood (banjir kilat, banjir bandang).
Dari data pengamatan, BMKG mencatat bahwa rerata suhu di Jakarta memang cenderung naik, dari 27.3°C pada tahun 1976, naik menjadi 29.4°C pada tahun 2014. Suhu maksimum di Jakarta pada tahun 1976 adalah 31.4°C naik menjadi 34.5°C pada tahun 2014.

Dari data tersebut juga menarik, melihat selisih suhu maksimum dan reratanya ternyata juga semakin tinggi Kenaikan 1°C, memang tidak tinggi. Tetapi dilihat rerata dunia yang hanya 0.7°C dalam 100 tahun, dapat disimpulkan bahwa kenaikan suhu di jakarta melebihi rerata dunia.

Ini semua mengimbas pada pola curah hujan di Jakarta. Di 5 lokasi pengamatan di seluruh Jakarta, yaitu di Cengkareng, Karet, Kemayoran (Stasiun 745), Halim dan Tanjung Priokpada bulan Desember, Januari, Februari dan Maret, menunjukan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun.

Puncak intensitas hujan terjadi pada bulan Januari dan Februari. Kemayoran (stasiun 745) dan Halim menunjukan intensitas curah hujan tertinggi di banding dengan 3 lokasi yang lain. Halim dan Kemayoran bisa menjadi representasi wilayah Jakarta Pusat dan Selatan. Sementara di Tanjung Priok, kenaikan intensitasnya pun tampak terlihat.

Trend menunjukan bahwa “tekanan” hujan di berbagai wilayah di Jakarta semakin meningkat dalam 5 tahun terakhir. Ini menegaskan bahwa daya-serap permukaan tanah di Ibukota tidak cukup mampu untuk “menyerap” hujan yang intensitas-nya selalu menaik dan menjelaskan mengapa mudah sekali terjadi genangan di Jakarta.

Bagaimana “serangan” dari daerah “penyangga” di sekitar Jakarta? Menilik kecenderungan jumlah hari hujan di Citeko selama 30 tahun, kenaikannya juga signifikan. Betapapun fraksi hari hujan dengan intensitas tinggi tidak menunjukan kenaikan yang signifikan yang bermakna bahwa kenaikan frekwensi “banjir kiriman” tidak begitu tinggi.

Namun demikian, kecenderungan kenaikan hari-hari hujan di atas 20 mm/hari, cukup untuk “menjadi” peringatan dini bagi warga Jakarta yang menerima limpahan hujan tersebut.

Sangat disyukuri bahwa statistik jumlah korban meninggal akibat banjir di Jakarta berkurang dari tahun ke tahun. Data korban meninggal karena banjir dari BPBD DKI menunjukan penurunan yang nyata, dari 48 jiwa pada tahun 2007 dapat ditekan menjadi 6 orang pada tahun 2015.

Demikian pula melihat kesiapan yang telah dilakukan oleh Pemda DKI. Mulai dari optimalisasi sistem peringatan dini, penyiapan komunikasi berantai dari sms hingga jejaring sosial, kesiagaan PUSDALOPS. Pengerukan sungai-sungai juga terlihat sigap. Bahkan lebih jauh, secara struktural, Pemda DKI pun telah bersiap dengan melebarkan “daya tampung aliran” dengan penataan bantaran sungai.

Dari laporan yang disampaikan pada beberapa pertemuan, BPBD dan pemda DKI telah mendorong “gerakan” biopori dan sumur resapan, serta memperdalam embung dan perbanyakan tandon air.

Sementara untuk menyerap genangan, pompa-pompa pun telah diaktifkan. Ini pun dilengkapi dengan kesiapan di sisi masyarakat.
Belajar dari tren gejala Klimatologis yang terjadi, Siswanto (2015) dalam kajian doktornya menegaskan bahwa Jakarta menghadapi tantangan meningkatnya intensitas curah hujan 2 (dua) kali lipat dibanding 100 tahun silam. Jika dalam data hujan di wilayah Puncak dan sekitarnya juga menunjukan kenaikan, sementara di Jakarta sendiri trend kenaikan curah hujan dapat terlihat nyata.

Persoalan ini akan bertambah saat pasang naik. Tampaknya, upaya Pemba DKI perlu terus didukung Karena banjir bukan hanya merupakan persoalan pemerintah daerah semata. Kesiapan dan kesiagaan pada sisi hulu dan hilir, struktur dan kultur, Pemda dan warga, merupakan kesatuan kekuatan ampuh untuk mengurangi tekanan dan ancaman banjir. ( adv )


Sumber : Indopos, 17 Nov 2015 Hal. 2


Thursday, November 26, 2015

Sikapi Persoalan Cuaca, BMKG Lakukan Workshop Bersama 14 Negara



Benua Maritim Indonesia (BMI) merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak pada posisi strategis, diapit oleh dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera (Hindia dan Pasifik) serta dilalui oleh garis khatulistiwa (ekuator). Posisi tersebut menjadikan BMI sebagai generator cuaca untuk wilayah Belahan Bumi Utara maupun Selatan. Posisi yang unik ini membuat BMI menjadi daerah yang mengalami berbagai variasi cuaca khas daerah tropis baik skala regional yaitu Madden Julian Oscillation (MJO), Dipole Mode (DM), Quasi Biennial Oscillation (QBO), Tropospheric Biennial Oscillation (TBO), Monsun Asia dan Australia serta fenomena skala global seperti El Nino Southern Oscillation (ENSO). Selain itu, terdapat pula Indonesia Troughflow (ITF) yang merupakan sirkulasi arus laut yang sangat penting tidak hanya bagi Samudera Hindia dan Pasifik, juga bagi Samudera Atlantik.

Kompleksnya variasi cuaca yang terjadi di BMI, membuat Global Climate Model (GCM) dan Numerical Weather Prediction (NWP) diwilayah Indonesia dianggap kurang maksimal untuk menggambarkan variabilitas cuaca dan iklim yang ada. Oleh karena itu diperlukan studi lebih lanjut untuk menjawab tantangan tersebut. Demi menjawab tantangan tersebut, maka BMKG mengkoordinasikan peneliti nasional (BPPT, KKP, LAPAN, LIPI, BIG, P3GL, Kemenristek Dikti, Kemenkomar dan Universitas) bersama dengan peneliti asing dari 14 negara melakukan kajian di wilayah Marine Continent meliputi darat, laut dan udara.

Acara tersebut dibuka oleh Kepala BMKG Dr.Andi Eka Sakya pagi ini (24/11) di Ruang Serbaguna, Kantor Pusat BMKG di Kemayoran, Jakarta Pusat. Kegiatan ini dihadiri sejumlah ilmuwan cuaca dari berbagai negara.(YS).

sumber : http://detak.co/sikapi-persoalan-cuaca-bmkg-lakukan-workshop-bersama-14-negara/ | Oleh redaksi : Detak.Co -  24 Nov 2015 | 11:17 AM



BMKG Prakarsai Kerja Sama Negara-negara Maritim


MerahPutih Peristiwa - Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia terletak pada posisi amat strategis. Diapit oleh Benua Asia dan Benua Australia, Indonesia juga berada di antara dua samudra yakni Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Posisi Indonesia yang dilalui oleh garis khatulistiwa menjadikan Benua Maritim Indonesia (BMI) sebagai generator cuaca untuk wilayah belahan bumi utara maupun selatan. Karenanya, Indonesia menginisiasi International Implementation Plan Workshop Year of The Maritime Continent.

"Ini adalah kegiatan penelitian bersama khusus untuk memperbaiki prakiraan cuaca terutama di benua maritim. Saat ini pada tahun 2015 sudah diawali cake of meeting. Tahun 2017-2018 ini merupakan kegiatan yang kedua dan BMKG menjadi koordinator," ujar Andi Eka Sakya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), di kantornya, Selasa (24/11).

Menurut Andi, agenda ini telah diikuti oleh 11 Negara di antaranya Australia, Tiongkok, Jepang, Filiphina, Singapura, Amerika Serikat, Inggris dan Indonesia diwakili BMKG.

"Manfaatnya sangat banyak mengenal interaksi iklim dan atmosfir dalam maritim, kapasitas building dari SDM, membantu dari segi perbaikan peringatan dini yang berbasis dini. Bersama-sama melakukan penelitian di Indonesia untuk menjadi agenda penelitian nasional," ujarnya.

Sebagai koordinator, BMKG juga melakukan kapasitas building. BMKG menggunakan kapal Baruna Jaya 1 sampai 4 untuk melakukan penelitian dan sudah dilakukan pelayaran. Andi berharap, perhelatan ini menjadi event berkelanjutan dan terus-menerus.

"Riset kerja sama ini sudah biasa kita lakuakan, dan ini sangat besar karena 11 negara. Terkait dengan stok sumber daya ikan dan iklim cukup menarik, karena ini sebagai poros maritim. Dengen menenggelamkan kapal-kapal oleh KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan), kita juga perlu tahu berapa jumlah ikan yang ada setelah ditenggelamkan," jelasnya. (aka)




BMKG SIAP JADIKAN INDONESIA POROS MARITIM DUNIA



RMOL. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) siap menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Salah satu upaya itu dengan menjadi tuan rumah lokakarya perencanaan pelaksanaan Years of the Maritime Continent (YMC) 2017-2019 di Jakarta, mulai Selasa (24/11) hingga Kamis (26/11).

YMC merupakan kerja sama riset internasional untuk mempelajari interaksi laut dan atmosfer di benua maritim. Salah satu hasil positifnya adalah bisa memperbaiki prakiraan cuaca dan iklim di area tersebut yang akan mempengaruhi prakiraan cuaca di dunia.

Kepala BMKG, Adi Eka Sakya melalui keterangan persnya menjelaskan, kegiatan workshop yang kedua kali ini merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya yang dilaksanakan di Singapura.

"Kali ini yang akan dibahas yaitu mengenai implementation plan berupa pengajuan proposal riset setiap peserta, dan kerjasama antar internasional dan nasional," paparnya.

Adi juga menyebutkan bahwa YMC juga sejalan dengan keinginan pemerintah menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Ia berharap melalui kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman dan prakiraan terhadap perubahan cuaca serta iklim di benua maritim sekaligus untuk mengetahui dampak perubahan secara global.

Pada kegiatan inisiatif multilateral ini akan menggunakan peralatan observasi yang dimiliki Indonesia dan institusi dari negara-negara mitra konsorsium YMC.

Tambah Adi, sejauh ini tercatat 11 negara termasuk Australia, Cina, Jepang, Jerman, Filipina, Singapura, Amerika, Inggris, Perancis, Taiwan, dan Indonesia akan berpartisipasi dengan melibatkan puluhan lembaga penelitian dan universitas.

Workshop ini diikuti oleh 27 peserta dari 10 negara yang berasal dari Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Ukraina, Singapura, Filipina, Australia, Jerman, dan Inggris.

BMKG sendiri mengajak mitra penelitian dalam negeri, seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), serta sejumlah universitas seperti ITB, IPB, Unsri, dan Unsoed.

"Indonesia andil dalam Kegiatan YMC dikarenakan meningkat Benua Maritim Indonesia (BMI) merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak pada posisi strategis, diapit oleh dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera (Hindia dan Pasifik) serta dilalui oleh garis khatulistiwa," ujarnya.

Posisi tersebut lanjutnya menjadikan BMI sebagai generator cuaca untuk wilayah Belahan Bumi Utara maupun Selatan.

Namun demikian, kompleksnya variasi cuaca yang terjadi di BMI, membuat Global Climate Model (GCM) dan Numerical Weather Prediction (NWP) di wilayah Indonesia dianggap kurang maksimal untuk menggambarkan variabilitas cuaca dan iklim yang ada.

Untuk itulah BMKG mengkoordinasikan peneliti nasional seperti, BPPT, KKP, LAPAN, LIPI, BIG, P3GL, Kemenristek Dikti, Kemenkomar dan Universitas, termasuk peneliti asing dari 14 negara melakukan kajian di wilayah Marine Continent meliputi darat, laut dan udara.[wid]


Sumber : http://www.rmol.co/read/2015/11/25/225802/BMKG-Siap-Jadikan-Indonesia-Poros-Maritim-Dunia | LAPORAN: WIDYA VICTORIA  | RABU, 25 NOVEMBER 2015 , 10:39:00 WIB



BMKG Terus Perbaiki Tingkat Prakiraan Cuaca



JAKARTA (SK) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terus berupaya memperbaiki tingkat prakiraan cuaca dan iklim yang diperlukan berbagai instansi dan kalangan masyarakat.

Terkait dengan itu, BMKG kali menyelenggarakan suatu work shop yang dinamakan implemetation plan dari Years of the Maritime Continent.

“Kegiatan ini adalah kegiatan penelitian bersama, yang dilakukan khusus untuk meningkatkan pemahaman, dan juga memperbaiki tingkat prakiraan cuaca dan iklim, terutama di Benua Maritim yakni di Indonesia,” kata Kepala BMKG Andi Eka Sakya dalam keterangan pers di sela-sela persiapan kegiatan Years of the Maritime Continent, di Kantor BMKG, Selasa (24/11).

Andi Eka menjelaskan, kegiatan Years of the Maritime Continent akan dilakukan tahun 2017-2018. Persiapan ini sudah dilakukan tiga kali sejak awal 2015 yakni di Jakarta, Singapura dan kini di Jakarta kembali.

“BMKG diminta menjadi koordinator. Sampai saat ini, aktifitas ini sudah diikuti peserta dari sebelas negara yakni Autralia, China, Jepang, Jerman, Filipina, Singapura, Amerika Serikat, Inggris, Taiwan, Perancis dan tentu saja Indonesia,” katanya.

“Dari Indonesia sendiri, BMKG bekerja sama dengan BPPT, LIPI dan LAPAN,” kata Andi. Selain badan dan lembaga itu, BMKG juga melibatkan peneliti nasional dari KKP, BIG, P3GL, Kemenristek Dikti, Kemenkomar, dan kalangan universitas. Bersama peneliti dari negara-negara asing, mereka akan melakukan kajian di wilayah Marine Continent meliputi darat, laut dan udara.

Menurut Andi Eka, kegiatan bersama Years of The Martime Continent ini banyak manfaatnya bagi Indonesia. Terutama bagaimana memahami bagaimana interaksi iklim dan atmosfir di Indonesia, terutama dilihat dari segi aktifitas maritim. Ini sejalan dengan program pemerintah mewujudkan poros ma­ritim. Kemudian yang kedua, adalah capacity building tentu saja dari segi sumber daya manusianya. Dan yang ketiga, selain memperbaiki bagaimana memprediksi, BMKG juga ingin memperbaiki mutu dari sistem peringatan dini berbasis risiko.

Yang keempat, bersama-sama melakukan kegiatan penelitian di Indonesia sebagai bagian dari penelitian kita. ini suatu gerakan yang bagus.

Lebih lanjut Andi Eka menjelaskan, Benua Maritim Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak pada posisi strategis. Diapit oleh dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera (Hindia dan Pasifik). serta dilalui garis khatulistiwa (ekuator).                

Posisi tersebut menjadikan BMI sebagai generator cuaca untuk wilayah Belahan Bumi Utara maupun Selatan. Posisi yang unik ini membuat BMI menjadi daerah yang mengalami berbagai variasi cuaca khas daerah tropis, baik skala regional yaitu Madden Julian Oscillation (MJO), Dipole Mode (DM), Quasi Bieenial Oscillation (QBO), Tropospheric Biennial Oscillation (TBO), Monsun Asia dan Australia serta fenomena skala global seperti El Nino Southern Oscillation (Enso).

Selain itu terdapat pula Indonesia Troughflow (ITF) yang merupakan sirkulasi arus laut yang sangat pen­ting, tidak hanya bagi Samudera Hindia dan Pasif, juga bagi Samudera Atlantik.

Kompleksnya variasi cuaca yang terjadi di BMI,membuat Global Climate Model (GCM) dan Numerical Weather Prediction (NWP) di wilayah Indonesia dianggap kurang maksimal untuk menggambarkan variabilitas cuaca dan iklim yang ada. Oleh karena itu diperlukan studi lebih lanjut untuk menjawab tantangan tersebut. (dwi)





Wednesday, November 25, 2015

BMKG: Waspadai Ancaman Banjir dan Longsor di Banyak Daerah


Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan dimulai pada akhir November hingga awal Desember. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Februari 2016.

Tingkat intensitas hujan yang tinggi membawa dampak banjir dan longsor di banyak daerah.

"Kami memberikan catatan untuk meningkatkan kesiagaan dan kewaspadaan masyarakat Indonesia berkaitan dengan musim hujan," kata Kepala BMKG Andi Eka Sakya di kantornya, Jalan Angkasa 1 Kemayoran, Jakarta, Rabu (11/11).

Andi menyebutkan beberapa daerah rawan banjir di Indonesia yaitu, Sumatera Utara, Padang, Sumatra Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan, dan Palembang.

Sementara daerah rawan banjir di Pulau Jawa di antaranya Banten, Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sedangkan wilayah lainnya di Kalimantan, Sulawesi Selatan, Maluku bagian selatan, Ambon, dan Papua.

"Ini (banjir) untuk Februari puncaknya," kata Andi.

Dia juga menyebutkan daerah rawan longsor di Indonesia. Beberapa di antaranya yaitu Bengkulu, Aceh, Jawa Barat bagian selatan, Jawa Tengah bagian tengah, Pacitan, Madiun, Lamongan, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Ambon, dan Papua.

"Kerentanan gerakan tanah menggambarkan bahwa kalau hujan cepat sekali longsornya," ujar Andi.

Selain untuk meningkatkan kesiagaan terjadinya bencana banjir dan longsor, lanjut Andi, dinamika awan pada musim hujan awal tahun depan penting untuk lalu lintas transportasi udara dan laut.

Meskipun puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi pada Februari, namun justru di Sumatera sebelah utara memasuki musim kemarau, termasuk di Riau.

Sementara pada November hingga awal Desember, Indonesia memasuki musim pancaroba. Deputi Klimatologi BMKG Nurhayati mengatakan memasuki pancaroba kali ini, pihaknya memprediksi sifat hujan masih dalam batas normal (59,9 persen) hingga di bawah normal (30 persen). "Tapi dominan normal," katanya.

Bawah normal yang dimaksud yaitu intensitas hujan masih di bawah rata-rata dari hujan di lokasi tersebut. Misalnya seratus milimeter per bulan, intensitas hujan masih kurang dari angka itu. "Kami punya catatan tiap lokasi selama 30 tahun," katanya. (obs)





BMKG: Waspadai Banjir Jakarta pada Jan-Feb




JAKARTA (SK) – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya mengingatkan warga Jakarta akan ancaman banjir selama puncak musim hujan sepanjang Januari-Februari (Jan-Feb) 2016.

“Hujan di Jakarta, intensitasnya masih rendah mengingat se­panjang November merupakan ma­sa transisi pergantian musim atau periode pancaroba,” kata Andi Eka Sakya di Jakarta, Rabu (11/11).

Pada akhir November, lanjut Andi, intensitas hujan diperkirakan semakin naik sampai menemui pun­caknya pada pergantian tahun 2015 menuju 2016.

“Sekarang angin masih berpendar, hujan belum teratur. Kita se­dang dalam masa pancaroba atau transisi pergantian musim,” ucapnya.

Ditambahkan, daya serap permukaan tanah di Jakarta terhadap air hujan terbilang rendah. Karena itu, jika hujan deras melanda cenderung akan menutupi permukaan daratan Jakarta hingga menimbulkan banjir.

“Daya serap Jakarta terhadap air hu­jan kurang baik. Untuk itu, perlu di­buat pengaturan dan pe­na­taan alir­an air sungai dan memperba­nyak sumur biopori. Hal itu penting agar tidak menimbulkan ma­sa­lah saat intensitas curah hujan di Ja­kar­ta semakin meningkat,” tu­tur­nya.

Intensitas curah hujan, menurut Andi, akan terus meningkat ti­dak hanya di Jakarta. Tetapi juga di banyak wilayah di Indonesia di­mulai akhir November. Dengan naiknya curah hujan maka ancaman banjir semakin tinggi.

“Beberapa wilayah Indonesia yang terancam banjir seiring pe­ning­katan curah hujan seperti Su­ma­tera Utara, Sumatera Barat, Beng­kulu, Jambi, Sumatera Sela­tan, sebagian pulau Jawa dan Su­la­wesi Selatan bagian timur,” katanya.

Sementara itu, beberapa wila­yah di Indonesia justru sudah me­ma­suki musim hujan seperti di Aceh bagian utara dan tengah, se­bagian besar Sumatera Utara, Riau bagian barat dan Jayapura.

Pada kesempatan yang sama Andi Eka Sakya mengingatkan ma­sya­rakat agar menjaga kesehatan se­lama masa pancaroba. Karena peru­bahan suhu dan cuaca eks­trim secara tiba-tiba akan menimbulkan gangguan kesehatan.

“Untuk itu, masyarakat lebih memperhatikan kesehatannya agar tak mudah sakit,” katanya.
Persiapan lain yang perlu dila­ku­kan, Andi menyebutkan pena­ta­an infrastruktur. Karena di masa pan­caroba cenderung diwarnai de­ngan adanya hembusan angin yang kencang, hujan lebat sporadis da­tang secara tiba-tiba dengan durasi pendek.

Dengan karakteristik cuaca be­lakangan ini, sebaiknya setiap pihak segera memperhatikan saluran air agar alirannya lancar, me­nguatkan struktur bangunan yang rentan dan pohon-pohon rimbun agar dipangkas agar tidak roboh secara tiba-tiba. (sen)